Pages

dampoleng. Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 17 April 2014

Konseling Pancawaskita

Tokoh Utama dalam Pancawaskita
Hasil gambar untuk prof prayitnoProf. Dr. H. Prayitno, MS. lahir di Sidareja ( Kabupaten Cilacap) 21 Desember 1940, adalah Guru Besar dalam bidang bimbingan dan konseling (BK) pada fakultas ilmu pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP-dahulu IKIP Padang) yang telah puluhan tahun telah berkecimpung dalam pendidikan calon tenaga pembimbingan atau konselor dan praktik pelayanan BK, baik untuk siswa maupun warga masyarakat pada umumnya.
Setamatnya sebagai sarjana jurusan BK (dahulu bimbingan dan penyuluhan) IKIP Bandung tahun 1965. Beliau menjadi dosen IKIP Bandung. Kemudian hijrah dan menjadi dosen IKIP Padang (sejak 1966) dan memegang sejumlah jabatan antara lain Ketua jurusan BK; Dekan FIP IKIP; Direktur sekolah Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP); Guru pembimbing Senior; Anggota Tim Nasional Bimbingan dan penyuluhan PPSP.
Sementara itu beliau melanjutkan studi di Macquire University, Sydney (Australia) serta di Indiana University (Amerika Serikat) untuk memperoleh gelar master (1978) dan doktor (1980), keduanya dalam bidang BK.
Selanjutnya beliau mendirikan dan menjadi ketua Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling (UPBK) IKIP Padang (1986). Kemudian beliau menjabat lagi sebagai Dekan FIP IKIP Padang (1989 - 1996); penanggung jawab konsultan akademik penataran BK bagi guru – guru pembimbing SLTP/SLTA SELURUH Indonesia di PPPG Keguruan jakarta (1993 - sekarang); Ketua Tim Pengembang Nasional Student Support Service (3S) dan Carier Planning Development (CPD) untuk mahasiswa 30 LPTK Negeri seluruh Indonesia (1996- sekarang); ketua program BK pasca sarjana UNP (1995 - sekarang).
Dalam organisasi profesi BK, yaitu Ikatan petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) beliau pernah menjabat komisaris IPBI Daerah Sumatra bagian tengah dan selatan dan sebagai ketua umum pengurus besar (1991 – sekarang.)

A.   Konsep  Dasar
Konseling Pancawaskita disingkat (KOPASTA). Konseling Pancawaskita merupakan salah satu bentuk pendekatan dalam konseling dengan memadupadankan teori konseling (Eklektik). Kopasta menitik beratkan pada wawasan Pancawaskita. Pancawaskita mengintegrasikan lima faktor yang mempengaruhi individu yaitu:
a.         Pancasila.
b.         Lirahid (lima ranah kehidupan)
c.         Panca daya ( Takwa, Cipta, Rasa, Karsa, Karya)
d.        Masidu (lima kondisi yang ada pada diri individu) yang terdiri dari (rasa aman, kompetensi, aspirasi, semangat, pengunaan kesempatan)
e.         Likuladu (lima kekuatan diluar individu) yang terdiri dari (gizi, pendidikan, sikap, perlakuan orang lain, budaya dan kondisi insidensial)
Dalam sejarahnya KOPASTA dikembangkan sebagai salah satu pendekatan yang dilakukan dalam pelaksanaan konseling perorangan, para konselor diharapkan dapat menguasai pendekatan ini sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam penyelenggaraan konseling perorangan.
Pengaruh faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan secara cermat dan dilakukan pembinaan melalui konseling sehingga perkembangan dan kehidupan individu menjadi lebih membahagiakan. Kebahagiaan ini akan menjelma melalui kehidupan individu yang mandiri.
Ditilik dari isinya konseling merupakan proses membangun pribadi yang mandiri. Sebelum seorang konselor membangun hal itu, terlebih dahulu ia perlu membangun pribadinya yang mandiri terlebih dahulu. Konselor yang mandiri itu akan mampu dari segi teknis dan psikologisnya menyelenggarakan konseling eklektik dengan wawasan pancawaskita. Waskita merupakan sifat yang terpancar dari kiat dan kinerja yang penuh dengan keunggulan semangat disertai dengan :
1.         Kecerdasan, bahwa konseling adalah pekerjaan yang diselenggarakan atas dasar teori dan teknologi yang tinggi serta pertimbangan akal yang jernih, matang dan kreatif.
2.         Kekuatan, bahwa konselor adalah pribadi yang tangguh baik dalam keluasan dan kedalaman wawasan berfikirnya, pengetahuan serta keterampilannya, maupun dalam kemauan dan ketekunannya dalam melayani kliennya.
3.         Keterarahan, bahwa kegiatan konseling berorientasi kepada keberhasilan klien mengoptimalkan perkembangan dirinya dan mengatasi permasalahanya.
4.         Ketelitian, bahwa konselor bekerja dengan cermat dan hati-hati serta berdasarkan data dalam memilih dan menerapkan teori dan teknologi konseling.
5.         Kearif bijaksanaan, bahwa konselor dalam menyikapi dan bertindak didasarkan pada peninjauan dan pertimbangan yang matang, kelembutan dan kesantunan terhadap klien dan orang lain pada umumnya sesuai dengan nilai moral dan norma-norma yang berlaku serta kode etik konseling.
Itulah panca waskita , kewaskitaan yang didalamnya terkandung  lima faktor yang akan menjadi andalan bagi keberhasilan seorang konselor.

1.      Hakekat Keberadaan
Dunia dan alam semesta dipenuhi oleh serba keberadaan. Sebutlah sesuatu, maka sesuatu itu adalah sebuah keberadaan. Keberadaan terbentang dari yang paling kasat mata dan teraba (konkrit) sampai yang paling khayal dan termaya (abstrak) serta gaib; dari yang paling besar sampai yang paling kecil, dari yang paling sederhana sampai yang tak terhingga, dan dari yang ada sampai tidak ada.
Dalam kedinamisan keberadaan sepanjang zaman, dua jenis keberadaan amatlah penting, yaitu keberadaan yang sedang ada (KSA) dan keberadaan yang mungkin mengada (KMA). KSA terwujud dalam kesadaran seseorang, sedangkan KMA merupakan dunia kemungkinan. Jika KSA merupakan suatu titik yang sedang dijangkau oleh seseorang pada suatu saat, maka KMA merupakan daerah yang masih berada di luar jangkauannya, tetapi ada kemungkinan untuk dijangkaunya.
Sesuatu yang berasal dari KMA dapat menjelma menjadi KSA, dan KSA dapat surut ke daerah keberadaan yang pernah ada (KPA). Adalah sangat dimungkinkan KPA muncul kembali ke dalam KSA. Untuk itu KPA terlebih dahulu masuk ke daerah KMA.
Baik KSA maupun KMA mempunyai peluang dan keterbatasan. Didalam kekuasaan Tuhan Yang Maha Mencipta kesadaran manusia tentang peluang dan keterbatasan KSA bersifat manusiawi yang ditentukan oleh unsur – unsur ruang dan waktu serta unsur – unsur kondisional. Sedangkan peluang dan keterbatasan KMA bersifat “abadi”. Peluang dan keterbatasan KMA berada diluar jangkauan dan kemampuan manusia; semuanya itu sepenuhnya berada di tangan Tuhan Yang Maha Kuasa.
2.      Gatra
Keberadaan merupakan sesuatu yang penuh arti. Sesuatu yang penuh arti disebut gatra. Dalam dirinya sendiri gatra itu mengandung arti tertentu. Disamping itu, arti suatu gatra dapat pula diberikan dari luar, yaitu yang diberikan atau dibentuk oleh orang – orang yang berusaha menghayati dan / atau mendayagunakan gatra itu. Arti  dari dalam (ADD) suatu gatra bersifat amung dan demikianlah adanya (unik dan objektif), sedangkan arti yang diberikan dari luar (ADL) bersifat lentur.
Meskipun ADD sudah ada dengan sendirinya di dalam gatra, namun ADD itu tidak selalu dengan sendirinya tampak atau menampilkan diri. Bahkan seringkali terjadi ADD justru tersembunyi dan menunggu pengungkapan itu memerlukan usaha dan amat tergantung pada pengetahuan, kemampuan, dan kemauan orang yang bersangkutan. Berbeda dengan ADD yang bersifat menetap itu, ADL dapat “dibawa” ke mana saja oleh si pemberi arti, sehingga terkesan bahwa ADL bersifat seperti karet, direntang bisa panjang, disingkat bisa pendek; diangkat bisa tinggi, dibatasi bisa rendah; digali bisa dalam, ditimbun bisa dangkal; dibelok-belokkan ke mana pun bisa. Seperti pengungkapan ADD, ADL pun amat tergantung pada pengetahuan, kemampuan dan kemauan orang yang member arti terhadap gatra yang dimaksudkan.
Sifat keberadaan gatra adalah seperti sifat – sifat keberadaan benda pada umumnya. Ada yang “padat”, artinya bentuk dan isinya lebih pasti dan tidak mudah diubah; ada yang “cair”, artinya bentuk dan isinya mudah berubah; ada pula yang ibarat “gas” artinya bentuk, isi, dan kepadatannya amat mudah berubah, mengembang dan menguap. Demikian juga “warna” gatra. Ia dapat berwarna tunggal ataupun berwarna – warni bagai pelangi, ataupun kabur, buram, atau tanpa warna sama sekali.
ADD dan ADL suatu gatra tidak selalu sama, melainkan justru seringkali tidak bersesuaian, bahkan bertentangan. Keserasian antara ADD dan ADL suatu gatra akan mewujudkan kesatuan, kebulatan dan kemantapan arti dari gatra yang dimaksudkan. Sebaliknya, jika keserasian antara ADD dan ADL timpang, atau bahkan bertentangan, maka akan terjadi kesalahartian dengan berbagai akibatnya.
KSA (keberadaan yang sedang ada dalam sebuah gatra) yang ada pada diri klien dianalisis serta diberi suasana dan perlakuan – perlakuan khusus sehingga KMA (keberadaan yang mungkin ada dalam sebuah gatra) yang menguntungkan dan membahagiakan klien menjadi terwujud. Dengan penggatraan gatra dalam proses konseling itu klien dimungkinkan untuk berkembang menuju kemandiriannya.

3.      Hakekat Manusia
Manusia adalah suatu keberadaan dalam alam semesta ini; sebuah gatra. Berbeda dari gatra – gatra lain yang bukan manusia, ADD dan ADL pada manusia dapat diberi ciri berikut:
1.    ADD sangat bervariasi antara individu yang satu dengan individu lainnya; individu dapat memahami ADD-nya sendiri.
2.    Selain dapat memberikan ADL kepada gatra – gatra di luar dirinya, manusia pun dapat memberikan ADL kepada dirinya sendiri.
3.    Antar sesama individu atau sekelompok manusia dapat saling memberikanADL.
4.    ADD dan ADL terhadap diri sendiri serta ADL dari luar diri sendiri terus menerus berinteraksi yang menghasilkan perkembangan pada diri individu.

Ciri-ciri ADD dan  ADL seperti itulah kiranya yang membedakan secara amat tajam antara manusia dan bukan manusia sebagai makhluk Tuhan. Lebih dari makhluk – makhluk lainnya, manusia adalah makhluk yang tertinggi derajatnya. Ketertinggian derajat ini diperlengkapi dengan lima dimensi kemanusiaan yang melekat pada diri setiap insan, yaitu:
1.    Dimensi fitrah (dimfit).
2.    Dimensi keindividualan (dimin).
3.    Dimensi kesosialan (dimsos).
4.    Dimesi kesusilaan (dimsus).
5.    Dimensi keberagaman (dimag).

B.   Asumsi  Perilaku Bermasalah
Permasalahan yang dialami oleh seorang  individu terwujud di dalam tingkah lakunya. Ukuran kebermasalahannya tingkah laku individu diadu kepada nilai-norma- dan moral yang berlaku pada kehidupan sosio-budaya di lingkungannya. Memperhatikan dimensi 5x5x5 diatas, maka dapat diketahui bahwa akar dari permasalahan individu adalah kualitas pancadaya yang telah terkembangkan , likuladu, dan masidu, yaitu:
ü  Ketaqwaan yang terputus.
ü  Daya cipta yang lemah.
ü  Daya rasa yang tumpul.
ü  Daya karsa yang mandeg.
ü  Daya karya yang mandul.
ü  Gizi yang rendah.
ü  Pendidikan yang macet.
ü  Sikap dan perlakuan yang menolak dan kasar.
ü  Budaya yang terbelakang.
ü  Kondisi insidental yang merugikan.
ü  Rasa aman yang terancam.
ü  Kompetensi yang mentok.
ü  Aspirasi yang terkungkung.
ü  Semangat yang layu.
ü  Kesempatan yang terbuang.

C.   Tujuan Konseling Pancawaskita
Menurut Prayitno (1988: 21) Konseling pancawaskita mempunyai tujuan yaitu terbangunnya gatra baru melalui pengungkapan, analisis, pemaknaan secara tepat dan positif terhadap Arti Dari Dalam (ADD), Arti Dari Luar (ADL), Keberadaan yang Sedang Ada (KSA), serta pembinaan Keberadaan yang Sedang Ada (KSA) baru dengan memperhatikan Keberadaan yang Mungkin Ada (KMA) positif yang ada pada diri klien.

D.   Peran Konselor Dalam Konseling Pancawaskita
Dalam konseling eklektik konselor mengarahkan usahanya kepada berbagai aspek pada diri klien yang menjadi fokus penggarapan oleh penedekatan-pendekatan konseling yang berbeda.
Prayitno (1988: 32) menjelaskan masalah klien yang mengemukakan dalam konseling dapat menyangkut satu atau lebih fokus beberapa pendekatan. Dalam proses investigasi dan interpretasi konselor dapat mengungkapkan fokus tersebut dengan sangkut paut Masidunya. Dengan teknik yang tepat, konselor menyelenggarakan intervensi untuk mendorong Masidu menjadi lebih positif. Lebih jauh, siswa diharapkan dapat memerdekakan dan membangun dirinya.

Konselor dalam konseling pancawaskita mengarahkan usahanya kepada berbagai aspek pada diri siswa yang menjadi fokus penggarapan oleh pendekatan-pendekatan konseling seperti motivasi belajar rendah, dalam Masidu adalah semangat yang layu  dengan mengubah gatra lama menjadi gatra baru yaitu munculnya semangat dalam belajar yang tinggi. Dalam proses investigasi dan interpretasi konselor dapat mengungkap fokus tersebut dengan sangkut paut Masidunya dengan teknik yang tepat serta mendorong Masidu menjadi lebih positif lebih jauh klien diharapkan dapat memerdekakan dan membangun dirinya.
Read more...
separador

Pendekatan Konseling Karir Behavioral dan Pendekatan Konseling Karir Komprehensif

Pendekatan Konseling Karir Behavioral dan Pendekatan Konseling Karir Komprehensif


Pendekatan konseling karir behavioral

1.      Model
Lebih tepatnya menggunakan beberapa model dalam pendekatan behavioral dibandingkan dengan penggunaan satu model tertentu. Goodstein (1972) melihat hal tersebut, walaupun model-model tersebut sama yaitu dalam lingkup psikologi belajar eksperimental, tetapi dalam konseling behavioral ini terdapat dua orientasi yang berbeda. pertama yaitu fokus tidak langsung melalui aspek mediasi bahasa dan yang kedua adalah konsentrasi langsung pada konsekuensi sebuah respon dari pemberi sebuah penghargaan atau hukuman yang diberikan.
Meskipun Goodstein membuat konstribusi yang tak ternilai dalam menganalisis dan mendiagnosis ketidakmampuan membuat keputusan (indecision) dan ketidakyakinan (indecisive) konseli dalam hal karir, tetapi dia tidak memberikan teori umum pilihan karir dari pendekatan konseling karir behavioral.
Krumboltz dan baker mengungkapkan langkah konseling karir behavioral yaitu; a) pendefinisi masalah dan tujuan konseli; b) kesepakatan bersama agar tujuan konseling dapat dicapai; c) alternatif pemecahan masalah secara umum; d) mengumpulkan informasi tentang alternatif masalah; e) mempertimbangkan konsekuensi dari alternatif pemecahan masalah; f) peninjauan kembali tujuan, alternatif pemecahan masalah, dan konsekuensi; g) pembuatan keputusan atau pilihan sementara dari kemungkinan alternatif yang didasarkan pada perkembangan serta kesempatan yang baru; h) generalisasi proses pengambilan keputusan dalam masalah baru lainnya.

a.  Diagnosis
Menurut Krumbolts dan Thoresen mengklasifikasikan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh konseli secara umum meliputi tujuh bagian yaitu sebagai berikut :
·         Permasalahan ada pada perilaku individu.
·         Permasalahan ada diperasaan yang diungkapkan oleh konseli.
·         Ketidakjelasan atau ketidaktahuan tujuan karir.
·         Keinginan yang tidak tersalurkan.
·         Konseli tidak mengetahui bahwa perilakunya merupakan ketidakpastian.
·         Konflik dalam memilih
·         Ketertarikan pribadi terhadap sebuah karir bukan berdasarkan identifikasi potensi diri atau masalahnya.
b. Proses
Menurut Shoben 1949 mengatakan ada dua tahapan dalam proses konseling karir yaitu Tahap pertama, konselor berusaha menghilangkan kecemasan, kebimbangan yang berhubungan dengan pengambilan keputusan. Kedua, setelah konseli terbebas dari kecemasan, pembelajaran (pemahaman) bisa terjadi dan membantu menstimulasi untuk mempelajari pilihan-pilihan karir. dan proses konseling konseling karir sebagai kesimpulan utama dari teori behavioral (Goodstein, 1972) mengemukakan dua tahapan yaitu counterconditioning dan instrumen learning.
c.  Hasil
Menurut Krumboltz (1966, pp. 154-155) tujuan konseling harus memenuhi tiga kriteria, yaitu :
·         Tujuan konseling harus mampu merumuskan untuk tiap konseli secara individu.
·         Tujuan konseling untuk tiap konseli harus cocok dengan konselor, walaupun tidak harus identik dengan nilai yang dimiliki oleh konselor.
·         Derajat tujuan konseling harus dapat dicapai oleh setiap konseli agar dapat diobservasi

2.      Metode
Metode dari pelaksanaan konseling karir behavioral yaitu secara pragmatis. Beberapa metode dalam pendekatan ini adalah teknik wawancara,interprestasi tes dan informasi pekerjaan.
a.    Teknik wawancara
Goodstein (1972) menetapkan tiga prosedur yang dapat digunakan dalam orientasi psikoterapi behavioral yang juga dapat diterapkan dalam konseling karir.
·         Adaptasi atau desentisasi (adaptation or desentisization
·         Mengkondisikan inhibisi atau inhibisi internal (inhibitory conditioning or internal inhibition).
·         Counterconditioning.
b.    Interpretasi tes
Gambaran penggunaan tes dalam konseling karir, sedikit banyak diperluas yang salah satunya dengan teori. Konseling karir behavioral memberikan solusi alternatif dalam pengambilan keputusan kepurusan karir dengan maksud agar konseli memberikan tanggapan atas item-item yang didiskusikan tentang beberapa alternatif pekerjaan, skor dari hasil dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh konselor.
c.    Informaasi pekeerjaan
Dibutuhkan kreativitas dan imajinatif dalam memberikan informasi pekerjaan terutama konselor. Krumboltz dan rekannya menetapkan secara sistematik dalam pemecahan masalah pekerjaan.
·         Suatu masalah harus realistik dan mewakili jenis masalah pekerjaan.
·         95% dari target populasi (siswa SMU) harusnya tidak mengalami kesulitan dalam mengatasi masalah.
·         Masalah harus dipertimbangkan berdasarkan ketertarikan terbanyak pada target populasi.
·         75% dari target harus bisa memahami alat dan pemecahan masalah.
·         Suatu masalah harus dapat melengkapi dan mengatur diri individu.

3.      Materi
a.    Diagnosis
Sebagai contoh Jim binggung dalam menentukan 3 pilihan, dia mengalami kecemasan yang tinggi dan untuk mereduksi kecemasannya ia minum minuman keras secara berlebihan untuk sementara ia merasa lebih baik tetapi dengan segera ia menjadi alkoholik kemudian Jim membuat kontrak jangka pendek dengan konselor untuk tidak minum-minum lagi. Untuk mendiagnosisnya konselor menggunakan kuesioner tentang kecemasan Spielberger Trait and State dan Career Maturity Inventory. Jim memiliki kecemasan yang tinggi berkaitan dengan respektivitas dan konsekuensi kecemasan dalam analisis kebimbangan.
b.    Proses
Pemberian diagnosis dalam ketidakmampuan mengambil keputusan, konselor melakukan konseling karir yang dicobakan kepada Jim untuk mengkondisikan kecemasannya dalam membuat keputusan. Akibatnya, konselor memilih pengkondisian kecemasan dengan cara istirahat. Dengan bekerjasama, Jim dapat membangun keadaan untuk mengatasi kecemasannya dalam sebuah keputusan dan juga mengajar Jim dalam relaksasi
c.    Hasil
Hasil konseling karir terbukti dari proses tersebut. Pertama, dengan segera ia dapat menentukan beberapa pilihan,Kedua, membuat keinginan yang dahulu untuk menggabungkan dengan membuat keputusan,Ketiga, umpan balik yang didapatkannya mengindikasikan bahwa kemungkinan untuk mengatasi kecemasan.

Pendekatan Karir Komprehensif

1.      Model
Dalam merusmuskan model konseling kakrir konprehendif, konsep dan prinsip pokok yang digunakan tidak hanya bersumber dari pendekatan karir utama, tetapi juga bersumber dari sisitem umum konseling dan psikoterapi.Model disini yaitu Diagnosis,Proses dan Hasil.
a.    Diagnosis
proses diagnosinya adalah adalah
·         Diagnostik diffrensial yang bersumber dari teori konseling karir TF
·         Diagnosis dinamik dilakukan untuk mengetahui asal usul munculnya masalah
·         Menggunakan Career Maturity Inventory
b.    Proses
Dalam tahap ini persiapan awal dalam konseling karir komprehensif adalah diagnosis, tahap kemudian adalah menggunakan mengklarifikasi dan menspesifikasi masalah, dan yang terakhir dari tahap konseling karir komprehensif adalah menggolongkan masalah secara mudah.
c.    Hasil
Hasil dari konseling karir adalah penyesuaian yang tepat bagi permasalahan konseli, sedangkan dua hasil  lain yang diharapkan dari konseling karir adalah :
·         Tercapainya kemampuan konseli untuk membuat keputusan yang tepat baik
·         Menghasikan konseli yang kesesuainya menjadi lebih baik dalam fungsi kehidupan lain di samping dalam pekerjaanya.

2.      Metode
Sama dengan pendekatan-pendekatan sebelumnya dalam pendekatan ini metode-metode yang digunakan adalah teknik wawancara,interprestasi tes, informasi pekerjaan.
a.    Teknik Wawancara
Dalam Teknik wawancara disini  meliputi beberapa tahapan yaitu mulai dari tahap eksplorasi latar belakang masalah kemudian tahap yang selanjutnya adalah  pembatasan masalah dan tahap terakhir tahap pemecahan masalah.
b.    Interprestasi Tes
Konsep utama dari pendekatan tes inidapat memprediksi karir dimasa depan agar sesuai dan membuat konseli berfikir rasional untuk memilih karir. Hal yang khusus saat membuat keputusan diagnosis yang benar, ketika konseli dan konselor secara sistematis  menaganalis masalah apapun dapat diidentifikasi dan membuat pilihan.

c.    Informasi Pekerjaan
Adanya proses/prinsip utama dalam memberikan informasi pekerjaan pada konseli. Pertama, konselor bisa memadukan menggunakan informasi dengan konseling karir,Kedua,  konseli dapatdibentuk dan dikuatkan oleh konselor denagn menyimplkan informasi dalam dalam maupun luar konseli,Ketiga, sistem informasi dapat menggunakan informasi canggih (komputerisasi) yang kan bermanfaat bagi peningkatan konseling karir.

3.      Materi
Materi yang sering digunakan dalam motode konseling karir komprehensif adalah kegiatan wawancara antara konselor dan konseli, termasuk kegiatan yang ada di dalamnya adanya interaksi dan tes, yang dimulai dari perkenalan data pribadi dari inisial sampai ke pertnyaan berikutnya.
a.    Diagnosis
Konseli diharapkan dapat belajar untuk mengambil keputusannya sendiri berdasarkan latar belakang permasalahan yang dihadapinya sehingga keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan pada masa sekarang dan yang akan datang.
b.    Proses
Ada bebrapa tahap dalam  proses konseling karir komprehensif, yaitu sebagai berikut : a) Eksplorasi Masalah Awal (screening dan wawancara awal; b) Klarifikasi masalah dan Identifikasi orang terkait; c) Pembicaraan alternatif karir yang sesuai
c.    Hasil
Hasil dari contoh tersebut dalam konseling adalah sebagai berikut :
1)      Meskipun tidak mencapai keputusan karir yang pasti, setidaknya konseli mempelajari banyak hal yang menyebabkan ia sulit untuk menentukan pilhan karirnya
2)      Konseli mulai mengetahui identitas dirinya dengan lebih baik dan mampu mengkumunikasikan tentang konsep dirinya pada konselor.
3)      Konseli lebih terarah dan lebih beradaptasi dalam proses konseling karir, tidak hanya dalam penentuan karir tetapi lebih percaya diri untuk menjalani kehidupan selara keseuruhan


Read more...
separador
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers